Khurrkiuu.......khurrkiuu........khurrkiuu........khurrkiuu......., kicauan merdu dua ekor burung tersebut seakan membuat darah saya berdesir, setidaknya itulah yang saya rasakan ketika saya mendengar suara burung tersebut saat saya dan teman-teman sedang mengamati burung di TWA Kerandangan.  Setelah saya konfirmasikan dengan Fatahullah, petugas Pos TWA Kerandangan yang saat itu memandu kami, maka saya pastikan bahwa kicauan merdu berturut-turut tersebut  berasal dari sepasang Burung Koakiau  yang sedang mencari makan tidak jauh dari tempat duduk kami. Jika anda mengunjungi TWA Kerandangan dan anda sedang beruntung, anda akan mendengar kicauan merdu tersebut, tetapi jangan salah dengan kicauan Burung Kepodang (Oriolus chinensis) yang kicauannya berbunyi kukiuu...kukiuu (pendek dua kali), agak mirip dengan kicauan Burung Koakiau.  Meski mirip namun kemerduan suara Burung Kepodang jelas lain dengan suara Burung Koakiau yang lebih merdu dan tidak hanya dua kali kicauan tetapi berkali-kali.

Dari kicauannya tersebut maka orang kemudian menamakan burung si pemilik suara merdu itu dengan nama Burung Koakiau (yah dimirip-miripkanlah.....!). Nama ini cukup asing bagi orang yang dari Indonesia Bagian Barat yang baru datang/baru tinggal di Nusa Tenggara Barat, karena di habitat alam burung ini hanya ditemukan di Kepulauan Nusa Tenggara dan Australia.  Di Nusa Tenggara Barat selain nama Koakiau jenis burung ini juga dikenal dengan koakaok, secara umum di Indonesia dikenal dengan nama Cikukua Tanduk, sedangkan "orang kulon" menyebutnya dengan "Helmeted Friarbird".  Secara ilmiah jenis burung ini diberi nama oleh Swainson pada tahun 1838 dengan nama  Philemon buceroides.

Kenapa disebut dengan nama  Philemon buceroides (buceroides berarti ........),  Cikukua Tanduk atau Helmeted Friarbird? Apakah burung ini bertanduk seperti kerbau? (Iiiih seraaaam...!) Ataukah bercula seperti badak (wah bagaimana membedakan dengan paruhnya ya..!), ataukah seperti memakai helm (mungkinkah ada taat lalu lintas di dunia burung?).  Mungkin anggapan-anggapan tersebut ada benarnya.  Secara morfologi pada ujung depan kepala burung tersebut terdapat tonjolan, dan tonjolan inilah yang menyebabkan burung tersebut dinamai dengan nama-nama di atas, dan tonjolan ini juga membedakan Burung Koakiau dengan Cikukua yang lain.

Di Indonesia jenis burung ini terdiri dari dua sub spesies yaitu Philemon buceroides neglectus (bulu lebih gelap) yang tersebar di Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Flores, Pulau Besar, Pulau Lomblen, Pulau Pantar, Pulau Alor dan Pulau Sumba, serta  sub spesies Philemon buceroides buceroides yang tersebar di Pulau Sawu, Pulau Roti, Pulau Semau, Pulau Timor dan Pulau Wetar.

Philemon buceroides merupakan salah satu burung penghisap madu anggota Famili Meliphagidae dan termasuk satwa yang aktif pada siang hari (diurnal). Menurut penelitian M. Yamin, burung tersebut biasanya hidup soliter atau berpasangan dan jarang ditemukan berkelompok kecuali pada saat musim tumbuhan kesukaannya berbunga atau berbuah mereka berkumpul mencari makan.  Makanan Burung Koakiau berupa nektar (madu), buah dan serangga.  Tidak semua jenis tumbuhan dimakan nectar atau buahnya (maklum dia kan tidak rakus seperti manusia!), misalnya nectar dan buah Goal (Merremia sp), Nyamung/Jambu Biji (Psidium guajava) dan Kayu Kuning (Pteropus indica). Sedangkan tumbuh-tumbhan yang nektarnya disukai Burung Koakiau antara lain adalah Baru Ilit/Waru Laut (Thespesia populnea), Nyiur/Kelapa (Cocos nucifera), Renung/Kapuk Randu (Ceiba pentandra), Dadap (Erythrina orientalis) Dangar (Bombax buonopozense) dan Galupang (Bombax caiba). Sedangkan buah-buahan yang disukai antara lain adalah Pelas (Saripellus asper), Boar (Thladiantha puncata), Ara (Ficus septica) dan Baringin (Ficus superba). Burung Koakiau berbeda dengan anggota Famili Meliphagidae lainnya yang memerlukan nektar setiap hari sepanjang hidupnya, Burung Koakiau menghisap nektar hanya sewaktu-waktu.  Makanan yang utama adalah buah-buahan dan serangga. Seperti kebanyakan Famili Meliphagidae, Burung Koakiau bersifat agresif, suka berkelahi dan mengusir burung jenis lain sesama pemakan nektar khususnya pada waktu mendatangi bunga (ini peringatan buat burung pemakan nektar lainnya, hati-hati...!!!).

Burung Koakiau lebih menyukai habitat pinggir hutan atau perkebunan daripada habitat hutan dengan vegetasi hutan yang rapat atau areal yang terlalu terbuka seperti padang rumput.  Hal ini disebabkan karena habitat pinggir hutan atau perkebunan memiliki tempat terbuka yang cukup yang memungkinkan lebih banyak serangga untuk hidup dan memberikan ruang yang memungkinkan Burung Koakiau berburu dengan leluasa daripada di hutan yang kerapatan pohon-pohonnya tinggi.  Sedangkan areal yang terlalu terbuka kurang menunjang Burung Koakiau untuk berburu karena jarak pohon satu dengan lainnya relatif jauh sehingga Burung Koakiau membutuhkan energi yang relatif lebih banyak untuk kembali ke pohon setelah berburu serangga.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, Burung Koakiau termasuk salah satu satwa dilindungi di Indonesia, sedangkan pada daftar merah IUCN (persatuan internasional untuk pelestarian sumber daya alam) jenis ini termasuk dalam kategori Least Concern artinya ........  Menurut IUCN jenis ini mempunyai range yang luas, dan dalam range tersebut jenis ini merupakan jenis umum tetapi karena populasinya terus menurun sehingga oleh IUCN dimasukkan dalam kategori tersebut.

Di Indonesia sendiri jenis ini termasuk yang dilindungi karena populasinya yang disinyalir semakin menurun akibat perburuan illegal untuk dijualbelikan. Dan jenis ini cukup diminati di pasaran (pasar tidak resmi....!!) karena suaranya yang aduhai.   Hal ini semestinya mengetuk hati kita semua akan ancaman kelestarian Burung Koakiau.

 

Last Updated ( Thursday, 20 August 2009 11:27 )