Bisnis tanaman hias kian marak di  Pulau Lombok beberapa tahun ini. Berbagai nursery mulai bermunculan di berbagai tempat di Indonesia demikian juga di P.Lombok. Pulau ini kini menjadi tujuan wisata setelah Bali karena kekhasan alamnya. Pemandangan alam berupa gunung yang berbatasan langsung dengan pantai menjadi ciri khas lanskap P.Lombok. Hal tersebut mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Pegunungan yang dingin dan pantai yang kering dan panas menjadi prasyarat tumbuh yang sangat kontras bagi vegetasi yang tumbuh disini.  

Beberapa kawasan di Pulau Lombok seperti TWA Suranadi, TWA Kerandangan, TWA Bangko-bangko dan beberapa kawasan lainnya masuk kedalam wilayah SKW I Lombok. Di beberapa kawasan tersebut mempunyai potensi tanaman hias, diantaranya anggrek. Anggrek dapat hidup di tanah, di batang tanaman lain (epifit), di atas seresah (saprofit) atau menempel di bebatuan (ithotrof). Anggrek yang banyak ditemukan di salah satu kawasan SKW I Lombok adalah anggrek yang hidup di tanah. 

Munculnya banyak nursery dari tingkat rumahan sampai bisnis besar dikarenakan melonjaknya beberapa harga tanaman hias akhir-akhir ini, dan juga karena semakin meleknya masyarakat dan para hobiis tanaman hias terhadap bisnis ini. Beberapa waktu lalu di Mataram Lombok diadakan Pekan Florikultura Nasional II 2007. Dalam sambutan Menteri Pertanian yang dibacakan oleh Dirjen Hortikultura Deptan Dr Ahmad Dimyati, Mentan menjelaskan bahwa Indonesia pantas bersyukur punya kekayaan hayati yang melimpah. Sebagian merupakan flora tanaman hias yang punya karakteristik dan morfologi unik dan bernilai ekonomi tinggi. Dari sekian banyak spesies yang kita miliki baru sedikit yang sudah dibudidayakan.  

Philodendron, caladium, aglonema, adalah beberapa jenis yang banyak diminati para hobiis tanaman hias. Maraknya model taman minimalis turut membumbungkan nama beberapa jenis     tanaman diantaranya famili Agavaceae, Palmae, dan Sanseivera. Saat ini, jenis – jenis tanaman yang banyak digemari masyarakat sangat bergantung dari trend yang sedang berkembang saat itu. Jadi tak heran bila muncul tanaman musiman, yang dahulu harganya biasa saja tiba-tiba melambung tinggi namun tak lama kemudian harganya turun kembali.

Nursery tingkat rumahan pun kini tak kalah dari nursery komersil dalam hal jenis yang dibudidayakan seperti contohnya Ibu Mukhayyah yang tinggal di Taman Baru ini beliau telah membudidayakan setidaknya ratusan jenis tanaman hias di lingkungan rumahnya sendiri. Ada banyak Ibu Mukhayyah yang lain di Pulau Lombok ini yang turut mengembangkan jenis-jenis asli Indonesia seperti anjuran Bapak Mentan dalam kutipan diatas. Jika kita mampu bersaing dalam hal bisnis tanaman hias dengan Thailand maupun Philipina  saya kira devisa Negara akan banyak masuk dari sector ini, kata beliau. (Kurniasih Nur Afifah, S.Hut)

 

 

Last Updated ( Saturday, 23 January 2010 09:18 )